Sab. Sep 25th, 2021
Cerita Hidup Dunia Di dunia gelap, nama “Gang Sembilan Naga” telah menjadi legenda. Dia dilaporkan didukung oleh Sendana dan pejabat senior, dan tindakannya sebagian besar tidak tersentuh. Taipan Tommy Winata dianggap sebagai ayah baptis bersama Aguana, nama lain dari Suganto Kusuma. Bisnis mereka berkisar dari properti hingga perjudian, obat-obatan terlarang hingga mobil. itu benar?.
 
 
 
SCBD Pamit dari Pasar Modal, Ini Profil Tomy Winata Sang Konglomerat di Baliknya Oleh Warta Ekonomi Online
 
Dalam wawancara dengan TEMPO, Tommy membantah keras terlibat dalam kasus tersebut. Sebenarnya, “Saya baru mendengar tentang (nama band),” katanya. Namun, banyak sumber yang mempercayainya, termasuk mantan pencuri dan pencinta buku Anton Medan. Isi perut Gang Sembilan berikut dijelaskan secara detail berdasarkan informasi ini. Kecuali Tommy dan Yorris yang juga membantah, beberapa nama itu tidak bisa dihubungi TEMPO.
 
 
 
Tommy Vinata mengoperasikan Bank Artha Graha (dahulu bernama Bank Propelat), yang dimiliki oleh Komando Militer Silivangi. Bank Artha Graha adalah bentengnya
Bisnis Kerajaan Tommy: Grup Artha Graha.
 
 
 
Sejak lulus Akademi Militer Magellan di Jawa Tengah tahun 1982, saat menceritakan kisah hidupnya, Gatot Nurmantio mengungkap sahabat terdekatnya Tommy Vinatu. Saya ragu-ragu. “Persahabatan dengannya lebih unggul dari persahabatan lain,” ujarnya kepada Biro Tempo, Selasa pekan lalu.
 
 
 
Dua diantaranya disusun oleh Edi Sudrajat. Saat itu, Gatot lulus dari Magellan hanya dalam waktu enam bulan, menjabat sebagai wakil Eddie dan kemudian komandan distrik militer Siriwangi III. Eddie membawa seorang anak laki-laki Tionghoa ke Gatot, yang diperkenalkan sebagai orang yang memulai bisnis.
 
 
 
Tommy Vinata. Dia saat itu berusia 25 tahun. Tommy menjual bahan bangunan di mana-mana dengan sepeda dan mengerjakan berbagai proyek militer. “Ini Tommy, saya berpendidikan,” kata Eddie, yang meninggal pada 2006, menurut Gatot. Eddie membuat Tommy terkesan, yang selalu protektif terhadap teman-temannya.
 
 
Saat saya mulai sebagai anggota parlemen, saya kira Gatot baru saja pergi dengan Eddie. Suatu hari Eddie melihat setumpuk kertas di mejanya. Eddie bertanya koran apa itu. Gato bilang dia tidak tahu. Eddie membentak, melempar kertas. “Kamu asisten seperti apa?” – dia berkata.
 
 
 
Di lain waktu, Eddie melemparkan setumpuk koran ke kantor. Dari dua kejadian tersebut, Gatot menyadari bahwa ia perlu membaca semua surat Eddie dan mengkategorikannya. Surat mana yang penting dan mana yang tidak. Dia harus membaca koran dan mengambil berita yang perlu diketahui dan dibaca Eddie.
 
 
 
Gatot menganggap Eddie sebagai salah satu orang paling berpengaruh dalam hidupnya. Gato sudah siap saat dia menguji kewaspadaannya. Tiba-tiba Eddie mengarahkan senjatanya ke kamar tidur. Gatot tertidur dengan pistol di meja kamar tidur. “Bagaimana saya bisa melindungi diri saya dengan cara ini?” Kata Eddie.
 
 
 
“Ada senjata otomatis di sini,” kata Gatot sambil tetap berbaring dan membuka kancing piyamanya. Jadi tangan kanannya yang memegang bajingan itu. Eddie tersenyum pada asistennya.
 
 
 
Sedangkan Tomi Vinata sedang mengembangkan bisnis yang sedang berkembang. Pada 1988, Tommy membeli saham Bank Properat saat Eddie menjadi Panglima TNI. Awalnya, bank tersebut hanya dimiliki oleh Yayasan Kartika Eka Paksi yang merupakan bawahan TNI. Bank menjadi cikal bakal bisnis utama Tommy – Bank Artha Graha.
 
 
 
Beberapa bulan setelah akuisisi Propelat Bank, Tomi mengakuisisi saham PT Jakarta International Development, yang mengoperasikan Hotel Borobudur. Untuk bisnis ini, Tommy kembali bermitra dengan Yayasan Kartik Ekapaxi. Empat tahun kemudian, pembelian tanah di kawasan Jalan Jenderal Sudirman memperluas kemitraan kedua negara.
 
 
 
Tommy mengubahnya menjadi Sudirman Central Business District, kawasan bisnis elit Jakarta modern. Sebuah studi oleh Ernst & Young, yang dikutip oleh Human Rights Watch, memperkirakan nilai aset di wilayah tersebut dan perkembangannya ketika diakuisisi sebesar $ 3 juta pada saat itu. Baru-baru ini, kerjasama Kartika Eka Paksi dan Tomy Foundation telah meluas ke banyak bisnis lain, termasuk kehutanan, konstruksi, perumahan, pabrik, jasa, dan pertambangan.
 
 
 
Dalam wawancara dengan Tempo pada 1999, Tommy mengakui bahwa pekerjaannya banyak didukung oleh militer. Namun menurutnya kolaborasi tersebut juga dilakukan melalui lelang. Tommy mengaku sudah menangani pasukan Indonesia sejak 1970-an. “Itu sampai tahun 1985 dengan Yayasan Kartik Ekapaxi,” ujarnya.
 
 
 
Kontak Gato dan Tommy terjadi saat Banca Alta Graha mencoba membeli Banca Altaprima. Pada 1997, Tommy membeli 35.000 saham bank dengan harga Rs 1 per saham. Setelah diakuisisi oleh Tommy, bank tersebut berganti nama menjadi Bankir Pratama. Menurut Gatot, dirinya terlibat aktif dalam merger tersebut karena saat itu menjabat sebagai Presiden dan Komisaris Bank Arsa Graha.
 
 
Istimewa, Batuk Sedikit, Hakim Langsung Tawarkan Skorsing dan Minum
 
Gatot mengatakan sama sekali tidak risi membuka persahabatan dengan Tomy, pengusaha Tionghoa yang acap dihubungkan dengan bisnis gelap di Jakarta. Tomy bahkan selalu dikaitkan dengan “Naga Sembilan”, kelompok pengusaha Tionghoa yang menguasai bisnis gelap di Indonesia. “Saya tidak pernah menengadahkan tangan kepada dia,” ujarnya.
 
 
 
Kedekatan Gatot dengan Tomy dibenarkan Desmond Junaidi Mahesa, pengacara Tomy yang kini menjadi politikus Partai Gerindra. “Mereka berdua memang dekat sejak dulu,” tutur Wakil Ketua Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat ini. Karena kedekatan itulah, kata Desmond, Tomy acap mengundang Gatot ke acara perusahaannya.
 
 
 
Pada 10 Juni 2017, Tomy mengundang Gatot melepasliarkan seekor anak harimau bernama Mulli di Tambling Wildlife Nature Conservation di Pesisir Barat, Lampung. Tambling adalah hutan konservasi yang dimiliki dan dikembangkan Tomy. “Kehadiran Pak Gatot di sana sebagai kawan saya,” ujar Tomy kepada Tempo pada Kamis pekan lalu.
 
 
 
Tak ayal, persahabatan ini menimbulkan spekulasi bahwa Tomy salah satu penopang finansial Gatot dalam pemilihan presiden nanti. Itu pula sebabnya Mayor Jenderal Kivlan Zen menyebutkan Gatot punya logistik yang lebih banyak daripada Jenderal Prabowo Subianto.
 
 
Tomy Winata Profile | Indonesia Tatler
 
 
Apalagi, kepada sejumlah orang dekatnya, Tomy pernah mengatakan bersedia membantu Gatot dengan cara apa saja jika mantan Panglima TNI ini menjadi calon presiden. Tomy tak menjawab ketika dimintai konfirmasi soal janjinya ini.
 
 
Gatot mengatakan belum mendengar secara langsung Tomy Winata berjanji membantunya jika ia menjadi calon presiden, apalagi sampai ada rumor Tomy siap menjual rumahnya. “Saya tahu siapa dia,” ujarnya. “Orang paling konsisten dalam berteman.”
 
 

Sumber :

Sembilan Naga, Gengster Legendaris Asal Indonesia ?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *